Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

Sunday, March 18, 2018

[Cerpen Komedi] Kisah Siluman Sabun dan Wanita Ber-Alis Lancip


Kisah Siluman Sabun dan Wanita Ber-Alis Lancip

Pada suatu malam, sepasang kekasih mulai berdampingan menuju ke tempat biasa mereka bertemu ketika malam minggu tiba. Tempat itu, sudah seperti tempat wasiat peninggalan bapaknya, yang setiap satu minggu sekali ia kunjungi. Entah itu disebut dating atau ziarah, hanya mereka berdualah yang tau.
            “Kamu bawa motor apa mobil?” tanya seorang wanita pada kekasihnya.
            “Sejak kapan aku punya mobil? ayo cepet naik”, sambil menyalakan motor bututnya, lelaki itu berkata demikian.
            Menuju perjalanan ke tempat “ziarah” itu, mereka berdua saling memperdebatkan hal-hal yang sebenarnya tak penting untuk diperdebatkan. Sang lelaki meminta agar wanitanya tak perlu menggambar alisnya sampai sebegitu tebal dan lancip, sedangkan wanita meminta lelakinya mandi dengan benar, agar tak menyisakan busa sabun di lehernya.
            “Kamu jorok, mandi gabersih! Liat tuh sabun masih dileher” jerit wanita ber-alis lancip ini.
            “Ah kamu bisa aja nih, itu bukan sabun”
            “Terus apa dong, kayak busa gini bukan sabun? Kamu ngeles aja sih”
            “Itu kulit kering, justru malah aku gapernah make sabun kalo mandi” jawab pria yang bisa dikatakan seperti siluman sabun ini.
            Suasana seketika menjadi hening saat perjalanan, tanpa ada pembicaraan dan canggung satu sama lain. Siluman sabun pun diam tanpa kata, karena malu telah mengakui dirinya jarang menggunakan sabun saat mandi, sedangkan wanita ber-alis lancip ini diam menahan bau-bau jahanam yang semerbak merasuk hingga ke kerongkongan.
Suasana canggung pecah ketika si alis lancip bertanya kepada siluman sabun.
            “Bentar-bentar deh, kalo kamu jarang make sabun kalo mandi, terus sabun di kost kamu buat apa dong?” *tanya dengan penuh kecurigaan
            Keringat mulai mengalir dari kepala sampai dada si siluman sabun itu, karena ia bingung harus menjawab apa. Sempat berfikir se per sekian detik, akhirnya dia menjawab.
            “Jadi gini, sabun itu buat temen-temen aku kalo lagi main ke kost hehe..”
            “Jadi temen kamu juga doyan....”
belum selesai bicara, dipotong oleh siluman sabun.
            “Mending bahas yang lain aja deh”
            “Enggak, dengerin dulu! Jadi temen kamu doyan...” dipotong lagi oleh siluman sabun dengan hati penuh rasa khawatir karena kebiasaan memalukannya akan terbongkar oleh kekasihnya sendiri.
            “Sayaaang, udah ya jangan dibahas. Bentar lagi sampai nih, itu depan udah keliatan”
            “Enggak mau, dengerin dulu aku bicara, jangan dipotong. Jadi temen kamu juga doyan mainan sabun gitu? Hah! Ngaku, kamu juga kan?” tanyanya sinis, dengan  sedikit teriak kepada si siluman sabun.
            “Waduh.. selesai sudah hal yang paling memalukan dalam hidupku harus terbeberkan didepan kekasihku langsung” *siluman sabun bicara dalam hati
            “Giniloh sayang sebelumnya maafin aku, bukannya aku zinah atau apa, tapi itu kebutuhan biologis laki-laki jadi aku dari pada zinah sama cewe mending aku....”
Penjelasan itu segera dipotong oleh si alis lancip.
            “Loh!! Maksut kamu gimana sih kok biologis-biologis? Aku itu tanya, maksutnya, kamu suka mainan sabun-sabun yang jadi gelembung kayak anak-anak kecil gitu? Kamu kan udah gede kok masih main gelembung-gelembung sabun kayak anak kecil ajasih. Kamu harus beruba jadi dewasa dong. Oh iya maksut kamu tadi apa kok zinah-zinah, biologis-biologis?”
Seperti kena serangan combo attack! Siluman sabun pun mencari alasan yang rasional agar semuanya berjalan dengan normal.
            “Giniloh sayang, yang aku maksut zinah dan biologis-biologis tadi itu...”
Belum selesai bicara kepala sebalah kanan sudah menerima tampolan dari si alis lancip.
            “Goblook, kelewatan cafenya!”
Berujung dengan rasa malu, deg-degan dan harga diri sebagai lelaki seperti hancur ketika tangan wanita melancong ke kepala seorang pria. Siluman sabun pun putar balik dan ketika sampai di tempat parkir cafenya, siluman sabun berbicara sedikit tegas seperti pria-pria keren pada umumnya.
            “Kamu bisa nggak sih nggausah pukul kepala...”
Lagi-lagi sebelum selesai bicara, tangan si alis lancip melancong, kali ini ke kepala bagian atas.
            “Bacot ni anak, udah cepet lepas helm langsung masuk!”
Bayangkan, ketika sudah siap marahin kekasihnya yang kurang ajar; siluman sabun bersikap tegas dan berwibawa, malah dibalas kurang ajar lagi. Semakin tak terima dengan perlakuan itu, siluman sabun mulai benar-benar murkah dan menunjukkan kelaki-lakiannya dengan melepas helm dan jaketnya secara keren.
Setelah sudah terlepas semuanya, mulailah siluman sabun memanggil kekasihnya dengan nada penuh kewibawaan dengan dagu naik keatas sambil bicara.
            “Sayang, kamu bisa nggak lebih sopan dengan lelaki? Aku ini lelaki, lebih lagi kekasihmu?”
            “Gimana ya ngejelasinnya, kamu tuh udah goblok, banget lagi. Pake bajumu!! Ngapain dilepas!”
Teriak si alis lancip, dalam hati siluman sabun berkata.
            “Tailah, kelebihan kerennya ini, gaada keren-kerennya. Kelepas sampe baju-baju segala, kebablasan”
Setelah dipakai bajunya, sudah tak ada lagi niatan untuk saling bicara. Mereka diam dan canggung. Sama-sama marah, tapi sama-sama cinta. Meskipun si siluman sabun jorok karena mandi gapernah pake sabun, wanita ber-alis lancip ini tetap mencintai dengan kekurangannya itu. Begitu pula sebaliknya.
Duduk dan makan seperti ketika sepasang kekasih sedang bermasalah, itulah yang mereka lakukan. Seperti itu terjadi sampai mereka pulang, tidur dan bangun keesokannya juga masih sama-sama tak memberi kabar. Karena gengsi meminta maaf.
Dari cerita ini kita bisa mengambil sisi positif untuk laki-laki. Stop nyabun! (bermain gelembung seperti anak kecil) dan jangan lupa mandi pakai sabun. Sedangkan untuk perempuan, sudah, jangan iku campur masalah sabun menyabun lelaki, itu berat, kamu gak akan paham! dan terakhir, dari lubuk hati yang paling dalam, bisa ga kalo bikin alis gausah tebel-tebel? Lancip lagi. Parah, mamak aku aja gak kek gitu loh.

Tuesday, February 27, 2018

[Cerpen] Cerita Seorang Pekerja

DIPERKOSA WAKTU


Matahari mulai menampakkan dirinya meskipun teh belum tertuang di gelas yang berada diatas meja. Seakan memaksa para pekerja memerangi jalanan lebih pagi di hari ini. Tertata rapi sudah sepasang pakaian kerja diatas lantai Rusun yang telah disiapkan semalam oleh ibu dengan hati yang penuh dengan kasih sayang, sebelum ia harus pulang dari Rusunku. Melangkah malas untuk mengambil handuk dijemuran yang ala kadarnya lalu pergi ke kamar mandi, hampir setiap pagi seperti ini.
Setelah merapikan diri, mulailah menyalakan kompor untuk menyiapkan segalanya dan berharap agar sarapan berjalan seperti orang pada umumnya. Teh sudah dituangkan, gula yang hanya tinggal beberapa sendok pun sudah kumasukan kedalam gelas dan bercampur dengan teh. Tapi keinginanku untuk sama seperti orang lain segera hancur ketika aku melihat Magic Jar milikku kosong tak ada sebutir pun nasi. Menjalani hari-hari tanpa nasi memang menjengkelkan.
Setiap pagi seperti ini keada’annya, sampai tega menyemangati diriku sendiri “Semangat kerja, semoga ini adalah hariku” itulah yang kulakukan, miris memang tak memiliki pasangan. Setelah mengunci pintu Rusun pun aku masih harus menghadapi kesulitan, menuruni puluhan anak tangga dari lantai 3 menuju lantai dasar, dan itu pula salah satu alasan mengapa orang tuaku  jarang sekali datang ke Rusunku selain karena memang jauh.

Mulailah waktu dimana setiap pekerja merasa jengkel dengan keada’an seperti ini, Macet. Motor-motor berdesakan mencari jalan pintas agar semakin cepat menuju kantornya, sampai merelakan nyawa kebut-kebutan dijalanan yang macet. Klakson dan ocehan dari arah yang tak terduga selalu bergandengan.
“Tiiin..Tiiit Maju Woi.”
Orang bodoh mana lagi tuhan yang seperti ini, semua orang disana tau bahwa ini sedang macet, definisi anda klakson itu apa? menyuruh pengendara depan anda maju sedangkan didepannya juga terkena macet. Seperti menyuruh kucing menggonggong, tak akan bisa. Hanya bergumam yang bisa kulakukan disa’at-sa’at seperti ini.
Bertarung dengan debu-debu dan asap kendara’an yang hitam, asap itu seraya berkata.
“Berani kotor itu baik, sini nak sini..”
Akupun merasa semakin hari semakin liar jalanan kota ini, hanya untuk menuju ke tempat kerja pun harus merasakan hal seperti ini, memerangi waktu, bertarung dengan jalanan yang liar dan dipaksa menerima ocehan sampah dari orang-orang yang tak sabar dijalanan. Hidup memang kejam.
Sesampainya dikantor, aku melepaskan jaket yang lusuh dan helm motorku yang penuh debu dengan rasa khawatir bahwa hari ini aku akan terlambat. Masuklah aku ke kantor dengan penuh sapa’an dari rekan-rekan kerja sembari melihat jam, sudah kuduga aku terlambat hari ini.
“Terlambatnya keren bung, jamberapa nih.” kata rekan kerjaku sambil tertawa kecil.
“Hidup ini susah bung, kita seperti diperkosa waktu tapi keada’an nggak mendukung.”
Jawabku sambil bercanda.
Nasip pekerja memang tragis, terlambat beberapa menit pun potong gaji, apalagi aku yang terlambat hampir setengah jam ini.
Tanpa memperdulikan dan menyesali keterlambatanku, aku langsung menghidupkan komputer di tempat kerjaku dan langsung menyelesaikan tugas yang kemaren belum terselesaikan olehku. Dengan meneruskan tugasku yang kemaren aku bergumam.
“Bayaran kecil, datang harus tepat waktu, tugas numpuk, deadline seminggu lagi. Ah, dunia memang kejam bagi orang-orang yang tak punya gelar sarjana”
Sedikit demi sedikit kukerjakan tugas yang menurutku tak akan bisa selesai dalam waktu seminggu ini. Tiba-tiba terdengar suara jejak melangkah kedalam ruanganku.
“Selamat pagi pak.” tanya rekan kerjaku.
“iya, pagi.”
 “Bagaimana? Sudah sampai mana pekerja’annya.” tanya bos padaku.
“Ini sudah tahap mengaplikasikan desainnya saja pak.”
“Dari kemaren masih di tahap itu saja, ayo kamu harus berkembang lebih cepat lagi kalau bekerja, jangan lelet.”
“Tapi mendesain ini memang tak mudah pak, jadi saya butuh waktu agar hasil jadi lebih baik, dan juga agar usaha ini bisa dikenal dengan hasil yang bagus dan memuaskan”
“ Iya saya tau, tapi kamu harus bisa bekerja lebih cepat. Kalau kamu kerja separuh-separuh sambil main gedget kapan selesainya. Desain seperti itu juga kan mudah, harusnya kamu bisa lebih cepat.”
“Baik pak, saya bakal bekerja dengan cepat untuk mengaplikasikannya.” Ungkapku, karena aku sadar, sepandai-pandainya karyawan berbicara, akan tetap kalah dengan atasan.
Disini kadang aku merasa seorang desainer benar-benar tidak dihargai. Gaji tidak standart UMR, tugas tak sewajarnya, minta cepat dalam pengerja’an. Belum lagi menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai di tempat kerja, menghadapi macet setiap harinya, Menerima ocehan para pengendara lain, menerima kotoran kendara’an  dan masih banyak pengorbanan yang aku lakukan hanya demi beberapa lembar rupiah saja. Atau memang ini adalah ujian bagi orang yang berusaha aku pun tak begitu faham dengan maksut dan rencana tuhan ini, yang pasti aku ingin pekerja terutama Desainer dihargai dan diperlakukan sepantasnya dengan apa yang mereka berikan pada kantornya.
Waktu pulang sudah tiba, aku segera ceklok lalu pergi meninggalkan kantor. Suasana tak ada yang berbeda dengan sa’at aku berangkat ke kantor, hanya tak ada cahaya matahari yang menyinari saja bedanya. Dengan macetnya, ocehan sampah, dan asap kendara’an pun tetap seperti apa yang aku alami pagi tadi. Inilah hidup seorang karyawan yang diperkosa keada’an, ingin resign tapi masih ada tanggungan, ingin melawan tapi takut dikeluarkan. Sabar.

Sesampainya dirumah, cahaya matahari sudah benar-benar hilang. Aku melangkah menaiki puluhan anak tangga sampai kelantai 3, membuka pintu kamar dan melihat tempat yang berantakan. Menjengkelkan, tanpa perlu ku rapikan tempatku aku pergi kekamar untuk rehat sejenak sebelum mandi, dan berfikir jika segelas kopi dapat menenangkan hari ini. Ya, seperti itulah kehidupanku sehari-hari. Membosankan.

Thursday, February 22, 2018

Hati-Hati Melukai Hati [Baca'an Senja] - Salman Faridzi


BERAPA HATI YANG SUDAH KITA SAKITI

 Sudah berapa hati yang disakiti lisan, tangan dan perbuatan. Kita tak sadar, karena sejatinya semua  memaksa apa yang diinginkan. Berapa hati yang terluka hanya karena satu kalimat yang berantakan? yang merusak jalan insan menuju kebahagia'an, dengan cara yang dia anggap instan. Dan berapa hati yang terluka karena sentuhan berlebihan? menganggap semua berjalan seperti apa yang kita inginkan, dan merasa tak bersalah seakan sudah biasa dan tak perlu dendam. Setiap sentuhan, gerakan dan ucapan harus terjaga agar tak menyakiti hati banyak orang, terutama orang-orang yang kita tuakan. Tak perlu terlalu sopan, hanya saja kita harus elegan. Seperti apa?, melakukannya dengan akal yang "bersifat keseluruhan". Bersifat keseluruhan berarti menggunakan akal yang sebisa mungkin diterima oleh banyak orang. Bukan keinginan individu dan merasa sudah sewajarnya berkelakuan sembarangan.


Jika bersikeras membela diri, sudah tentu kita pemenang. Tapi, bukan perkara menang dan kalah, namun menghargai ego setiap orang, bagaimana agar ego ini serasi atau sedikit berbeda namun satu arah. Seperti aliran air sungai yang berbeda tempat namun serasi menuju ke satu arah, yaitu muara. Memang berat hidup berdampingan dengan manusia penuh sandiwara dan dusta, namun mencoba bersikap elegan adalah satu langkah yang dapat membuat langkah-langkah baru dalam usaha "memperbaiki" kedepannya. Berhenti menyikapi hal-hal yang seharusnya tak perlu disikapi secara berlebihan,  seperti perbeda'an pendapat. Selama yang dicetuskan tak melawati batas wajar dan tak melukai diri sendiri kenapa tak kita biarkan seseorang menikmati jalan imajinasinya?. Kadang memang semua tak sesuai seperti apa yang kita harapkan, namun mencoba melihat diri sendiri terkadang teramat sangat penting.

Kita harus memulai pada diri kita sendiri bagaimana seharusnya kita hidup berdampingan. Jika memang salah, berbenah dan perbaiki. Jika merasa benar, mungkin sedikit teguran dan pergi melupakan. Tak usah mempermasalakan, cukup berkaca dan memperbaiki. Memang orang bersalah harus disalahkan, namun tak berarti menghujat dan semakin mencari kesalahan. Dan tak kita sadari bahwa kita telah menyakiti hati, meskipun yang kita sakiti adalah orang yang bersalah. Kita memiliki Tuhan yang tau seperti apa hukuman untuk orang bersalah, kita memiliki pihak berwenang untuk mengurus orang-orang yang bersalah. Cukup "menyalahkan" lalu sudahi. Menyalahkan dalam artian mengakui bahwa apa yang telah diperbuat adalah perilaku yang salah. Tinggal bagaimana kita memperbaiki diri agar tak mengalami kejadian yang sama.

Tulisan ini saya tulisan berdasarkan apa yang ada dalam fikiran saya, namun jika berbeda pendapat mohon dimengerti. Karena perbeda'an pendapat pastilah terjadi di setiap pemikiran manusia. Saya berharap kalian yang membaca mengerti, bahwa jalan tulisan ini mengarah pada keharmonisan dalam menjalani hidup sosial.