Showing posts with label Baca'an senja. Show all posts
Showing posts with label Baca'an senja. Show all posts

Thursday, March 1, 2018

Cerita Pendek Mengenang Dan Merindukan Seorang Wanita [Mengenang dan Merindu] - Salman Faridzi


(1)    Senja Pilu


Melepas kelelahan disenja hari adalah rutinitasku, karena menurutku tak ada lagi yang bisa membuatku setenang diwaktu senja. Tak ada waktu seindah senja untuk meluapkan emosi yang telah kujalani untuk hari-hariku. Aku usap layar ponselku, kuingin melihat foto-foto masa laluku bersama teman-teman yang selalu ada kala itu, masa putih abu-abu. Banyak kenangan manis yang dapat kutayangkan dalam memoriku saat aku melihat foto-foto di ponselku, menyenangkan memang meski hanya melihat dan mengenang beberapa foto masa lalu itu.
Tapi, ada satu foto yang dapat melukiskan kisah lebih luas lagi, yaitu sepasang pelajar yang sedang berdampingan dan mengepalkan tangan dengan dua jari mengangkat, aku dan wanita idamanku. Satu foto seakan menceritakan suatu kisah yang sangat dalam. Ya, dia adalah wanita yang menjadi idaman selama bertahun-tahun. Hanya dari foto itu aku bisa menjabarkan cerita dibaliknya, mengingat kisah pilu didalamnya, mengingat sedikit kebahagiaanku ketika bersamanya.
Memang senja kali ini berbeda. Senja sore ini memaksaku mengingat pada kisah lama yang sangatlah pilu, ketika banyak orang berhasil mendapatkan pasangannya hanya beberapa saat, namun mengapa berbeda denganku yang harus membutuhkan beberapa tahun. Dan hasil dari tahunan aku menunggu adalah nihil, tak ada hasil yang bisa didapat dari sebuah penantian. Jika tuhan berkehendak lain terhadap jodohku, mengapa tuhan membiarkanku mencintainya sampai saat ini, mengapa tak ia hentikan rasa ini dari diriku agar aku berhenti mencintai orang yang salah, senja yang pilu di hari ini. Tapi aku tetap percaya rencana tuhan sangatlah indah.
Senja kali ini seperti mengantarkan rindu yang benar-benar rindu. Hanya bisa mengingat namun tak bisa bersama, hanya bisa memandang sebuah foto namun tak bisa bertemu. Aku sudah menjalani hari yang melelahkan, tapi senja kali ini malah mengingatkanku pada hal yang berat, sangat berat. Senja yang tak bersahabat.
Aku memandang pohon beringin tinggi yang bergoyang diterpa angin, didukung suasana yang mendung. Aku mengingat sesuatu tentang semua yang penah kulakukan hanya karena aku memiliki rasa yang berbeda padanya. Tak pernah aku menyentuhnya dalam konteks apapun, entah itu bercanda atau lainnya, terkecuali aku berjabat tangan. Tak pernah ku berani memandang matanya begitu lama yang bahkan sebenarnya aku takut untuk memandang matanya. Entah karena benar-benar aku takut atau aku menghormatinya sebagai wanita aku tak mengerti, yang pasti perasaan ini kacau ketika bertemu dengannya.
Seiring berjalannya waktu aku semakin memiliki rasa yang luar biasa, terlebih ketika aku berada didekatnya. Aku merasa bahagia ketika berada didekatnya meskipun dirinya tak mengerti rasaku ini terhadapnya. Banyak yang berkata bahwa cinta dalam diam sangatlah berat, susah dijalani.
Senja yang pilu di hari ini. Benar-benar pilu karena mendatangkan rindu. Memaksa kembali merasakan sedih sendu yang pernah kuhadapi pada masa itu. Aku ingin segera menyudahi kebersama’an bersama senja hari ini, benar-benar ingin menyudahi.

(2)    Kopi Penawar Lelahku

Malam yang dinginpun menyambut dengan hangat rasa rinduku, Seakan malam tahu bahwa aku dilukai senja. Sepertinya, malam ingin aku melupakan rasa rindu dengan mendatangkan angin yang perlahan menenangkan jiwa-jiwa yang sedang merindu. Malam ini sungguh malam yang menyenangkan dan penuh kehangatan.
Aku membawa kopi hangatku menemani lamunanku dimalam hari bersama bulan yang menyapa sinis seakan tak ingin harinya dipenuhi orang-orang yang bersedih. Tapi, maafkan aku, tak ada yang bisa menghentikan rindu ini meskipun kau membawa malam menghiburku, angin yang menenangkanku. Maafkan aku teruntuk malam yang sudah membawa angin pelepas rindu, namun ternyata hiburanmu tak menguatkan hatiku untuk melupakan rasa itu, Maaf.
Namun aroma kopiku ini mengingatkanku, seperti berkata “tidurlah, rindumu tak akan bisa meringankan rasa lelahmu” . Aku sedikit merenung dan memikirkan sesuatunya lebih dalam lagi, aku bisa saja meluapkan emosi rinduku dimalam penuh untuk hari ini, bahkan jika malam bisa lebih pajang dari malam seperti pada umumnya pun aku kuat. Tapi kopiku berkata “kamu tak akan kuat, biar tidur yang mengobati mimpimu, aku ada sebagai penawar lelahmu, bukan untuk pendampingmu untuk merindu, tidurlah sahabat”. Tanpa melakukan aktivitas apapun, aku tetap berada pada lamunanku dan memikirkan lelahku. Seharian aku bekerja hingga lelah, namun senja datang membawa rindu yang berujung pilu. Aku butuh istirahat hari ini, mungkin tidur akan mengobati rinduku.
Mencoba menghabiskan kopiku lebih cepat, agar kusegerakan pergi untuk bermimpi malam ini. Beranjak kekamar mandi mencuci wajah untuk menyiapkan tidur nyenyakku, yang semoga dapat melupakan rindu. Terima kasih kopiku, kamu penyelamatku dikala merindu.

(3)    Selamat Pagi Kata-Kata

Suara riuh rendah dari alarm ponselku tak berhenti sejak pagi tadi, aku terbangun telalu siang hari ini. Entah terlalu lelah bekerja atau terlalu dalam memikirkan tentang rindu. Yang pasti aku harus segera mempersiapkan semua untuk bekerja hari ini, aku sudah siap melupakan perasaan rindu yang datang hanya mengingatkan masalalu yang sedikit menyiksa itu. Pagi ini aku seperti memiliki kata-kata yang memotivasi diriku sendiri ketika ingin melakukan aktivitas pagiku.
Jika hati bisa berbicara mungkin hatiku akan berkata.
“Kamu adalah manusia yang tegar, kuat namun bodoh dalam hal perasaan”
lalu jika memang hati bisa bicara, mungkin aku akan menjawabnya.
“Aku bukan bodoh, hanya saja terlalu yakin tentang suatu perasaan”
Motivasi-motavasi untuk diri sendiri mulai berdatangan, sejenak terselubung dalam pikiranku.
“Mengapa sebuah perasaan yakin akan suatu rasa bisa sedalam ini, jika memang rasa yakin ini benar-benar sudah melekat pada jiwaku, aku pasrahkan semua pada tuhan. Tuhan akan tahu seperti apa yang terbaik”
Motivasi pagi yang cukup menenangkan hati, untuk menjalani pagi seperti biasanya. Akupun segera berangkat kerja untuk melupakan semuanya, karena aku yakin dengan bekerja dapat melupakan emosi sementara dalam pikiran yang sedang kacau.
Dengan banyaknya ocehan, riuh suara kendaraan bermotor dan macet yang ku temui di jalan, aku mulai sedikit melupakan dan memulai menyambut pagiku seperti biasanya. Mengendarai motorku dengan penuh rasa takut potong gaji karena terlambat dan dengan emosi mengenai macet yang selalu menjadi halangan berangkat kerja. Seperti jalanan tak perduli dengan kepentingan individu, menyebalkan.
Sesampainya aku di tempat kerja, memandangi tempat dimana biasa aku mengerjakan tugas-tugasku sebagai karyawan, semakin mendorongku untuk melupakan semua rindu yang datang sementara itu, belum lagi di isi dengan bercanda antar sesama karyawa diruang kerjaku. Kadang waktu dan suasana tertentulah yang membawa kita pada rindu. Dan cara untuk melupakannya adalah dengan mengikuti alur waktu dan menjalaninya seperti biasa.

Baca Juga : Penelisik Malam [Kehidupan Nocturnal]
Baca Juga : Hati-Hati Melukai Hati

Saturday, February 24, 2018

Pejuang Subuh [Kehidupan Nocturnal] | PENELISIK MALAM - Salman Faridzi


PENELISIK MALAM
Bercanda dan menelisik malam, mendominasi dan menjelajah malam, bergumam dan menaklukkan malam. Pejuang subuh yang berkawan dengan malam, setiap waktunya yang dipersiapkan hanya untuk malam hari, membuatnya merasa bersalah akan dirinya sendiri. Tapi rasa salah pudar ketika ia telah menjelajahi malam tanpa berfikir esok hari. Merasa bangga dan kuat malam ini seperti kelelawar yang sedang menemukan jati diri. Pejuang subuh selalu berfikir bahwa hari yang dijalani adalah kuasa tuhan, namun ia tak berfikir bahwa tuhan tak menyukai orang yang bahkan waktu pun diremehkan.

Tak seperti mereka, Manusia pada umumnya melawan pagi, mereka menyerah pada pagi. Manusia pada umumnya menyatakan perang dengan pekerja'annya, mereka berdamai pada itu semua. Seperti kata patrick stars "ini adalah hari kebalikan" bagi mereka sang Pejuang Subuh. Disaat semua terbangun ia tertidur, disaat semua tertidur ia malah terbangun. Aneh melihat kebiasa'an seperti ini bagi manusia pada umumnya, namun tak aneh bagi mereka. Mereka beranggapan bahwa dunia tak adil dengan ideologinya, tapi mereka tak sadar bahwa dunia tak membutuhkan ideologi seperti itu.


Dalam hati kecil mereka, berkata "Aku akan sudahi semua ini", tapi tak ada praktek yang dilakukan. Seperti itu setiap pagi datang menjelang ia tidur. Seperti menanam biji pohon, tapi lupa menyiram dan memupukinya. Seperti hanya omong kosong yang selalu terucap dipagi hari menjelang ia tidur. Dengan bakat yang ia miliki, seharusnya banyak pekerja'an yang seharusnya ia tempati diperusaha'an ternama. Tapi ia memilih untuk " freelance" karena kendala waktu yang terbalik atau bisa disebut Nocturnal. Secara bakat yang dimilikinya, ia sangat mumpuni. Tapi kemampuan mengatur waktu yang buruk membuatnya tak bernilai dimata orang. Hanya berkata kasar dan sesal yang bisa ia lontarkan pada dirinya sendiri mengapa begini, tapi seperti biasanya, tak ada praktek yang ia lakukan disetiap hari dengan sesalnya.

"Aku tak bisa menjalani kehidupan seperti ini lebih lama lagi" seperti itu gumamnya disuatu hari. Tapi kali ini berbeda, ia perlahan mempraktekkan perkata'an itu dengan mencoba tidur normal meskipun sangat jarang ia lakukan karena belum terbiasa. Mencoba bangun pagi, meskipun pagi yang ia maksut mungkin tak seperti pagi orang pada umumnya, setidaknya ia mencoba. Karena sang Pejuang Subuh sadar, bahwa harus ada yang dikorbankan untuk menggapai sesuatu yang di inginkan.
Meskipun banyak pengorbanan yang ia jalani, sampai sa'at ini ia belum menemukan kehidupan normal seperti orang pada umumnya. Dan setiap pagi pun ia berjanji pada dirinya "aku harus mencoba, berkorban untuk masa depan gemilang yang menungguku". Seperti itu seterusnya setiap hari yang ia lakukan. Tapi setidaknya ada keinginan untuk menemui perubahan, dengan mengorbankan sebuah kebiasa'an.

[Harus ada yang dikorbankan untuk menggapai apa yang di inginkan]

Thursday, February 22, 2018

Hati-Hati Melukai Hati [Baca'an Senja] - Salman Faridzi


BERAPA HATI YANG SUDAH KITA SAKITI

 Sudah berapa hati yang disakiti lisan, tangan dan perbuatan. Kita tak sadar, karena sejatinya semua  memaksa apa yang diinginkan. Berapa hati yang terluka hanya karena satu kalimat yang berantakan? yang merusak jalan insan menuju kebahagia'an, dengan cara yang dia anggap instan. Dan berapa hati yang terluka karena sentuhan berlebihan? menganggap semua berjalan seperti apa yang kita inginkan, dan merasa tak bersalah seakan sudah biasa dan tak perlu dendam. Setiap sentuhan, gerakan dan ucapan harus terjaga agar tak menyakiti hati banyak orang, terutama orang-orang yang kita tuakan. Tak perlu terlalu sopan, hanya saja kita harus elegan. Seperti apa?, melakukannya dengan akal yang "bersifat keseluruhan". Bersifat keseluruhan berarti menggunakan akal yang sebisa mungkin diterima oleh banyak orang. Bukan keinginan individu dan merasa sudah sewajarnya berkelakuan sembarangan.


Jika bersikeras membela diri, sudah tentu kita pemenang. Tapi, bukan perkara menang dan kalah, namun menghargai ego setiap orang, bagaimana agar ego ini serasi atau sedikit berbeda namun satu arah. Seperti aliran air sungai yang berbeda tempat namun serasi menuju ke satu arah, yaitu muara. Memang berat hidup berdampingan dengan manusia penuh sandiwara dan dusta, namun mencoba bersikap elegan adalah satu langkah yang dapat membuat langkah-langkah baru dalam usaha "memperbaiki" kedepannya. Berhenti menyikapi hal-hal yang seharusnya tak perlu disikapi secara berlebihan,  seperti perbeda'an pendapat. Selama yang dicetuskan tak melawati batas wajar dan tak melukai diri sendiri kenapa tak kita biarkan seseorang menikmati jalan imajinasinya?. Kadang memang semua tak sesuai seperti apa yang kita harapkan, namun mencoba melihat diri sendiri terkadang teramat sangat penting.

Kita harus memulai pada diri kita sendiri bagaimana seharusnya kita hidup berdampingan. Jika memang salah, berbenah dan perbaiki. Jika merasa benar, mungkin sedikit teguran dan pergi melupakan. Tak usah mempermasalakan, cukup berkaca dan memperbaiki. Memang orang bersalah harus disalahkan, namun tak berarti menghujat dan semakin mencari kesalahan. Dan tak kita sadari bahwa kita telah menyakiti hati, meskipun yang kita sakiti adalah orang yang bersalah. Kita memiliki Tuhan yang tau seperti apa hukuman untuk orang bersalah, kita memiliki pihak berwenang untuk mengurus orang-orang yang bersalah. Cukup "menyalahkan" lalu sudahi. Menyalahkan dalam artian mengakui bahwa apa yang telah diperbuat adalah perilaku yang salah. Tinggal bagaimana kita memperbaiki diri agar tak mengalami kejadian yang sama.

Tulisan ini saya tulisan berdasarkan apa yang ada dalam fikiran saya, namun jika berbeda pendapat mohon dimengerti. Karena perbeda'an pendapat pastilah terjadi di setiap pemikiran manusia. Saya berharap kalian yang membaca mengerti, bahwa jalan tulisan ini mengarah pada keharmonisan dalam menjalani hidup sosial.