Showing posts with label Sajak/Puisi. Show all posts
Showing posts with label Sajak/Puisi. Show all posts

Friday, March 16, 2018

WS. Rendra Dan 10 Puisi-Puisinya Yang Terkenal

Penyair Terkenal WS. Rendra. Siapa yang tak mengenal pria satu ini, sastrawan asal indonesia yang telah memberikan banyak karya-karyanya di tanah air. Willibrordus Surendra Broto Rendra atau bisa kita kenal WS. Rendra ini lahir di Solo pada 7 November 1935 dan meninggal di Depok tepatnya pada 6 Agustus 2009. Tak hanya puisi yang pernah ia tuliskan, sejak muda ia sering sekali menulis puisi, skenario drama, cerpen, dan esai sastra di berbagai media.

Hasil gambar untuk ws rendra
(image: Puisi.co)


WS. Rendra pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada, dan dari pendidikannya disanalah dia mendapat gelar Doktor Honoris Causa. WS. Rendra juga di juluki sebagai "Burung Merak" ini, pada tahun 1967 pernah mendirikan bengkel teater yang menghasilkan banyak seniman-seniman terkenal di Yogyakarta.

Berikut adalah 10 Puisi Karya WS. Rendra :





  • DOA MALAM
Allah di sorga.
Dari rumah bambu sempitku
di malam yang dingin
tanganku yang rapuh
menggapai sorga-Mu.
Aku akan tidur di mata-Mu
yang mengandung bianglala
dan lembah kasur beledu.
Ketika angin menyapu rambut-Mu
yang ikal dan panjang
aku akan berlutut di pintu telinga-Mu
dan mengucapkan doaku.
Doa adalah impian
dan segala harapan insan.
Di dalam doa aku bisikkan impianku.
Apakah Kau tertawa lucu?
Anakku yang kecil memanjat jubah-Mu
dan tidur di dalam saku-Mu.
Sedang bulan di atas pundak-Mu

istriku masuk ke dalam darah-Mu.
Ketika Engkau mengucapkan selamat malam
bunga-bunga kertas aneka warna
berhamburan dari mulut-Mu.
Dan untuk anakku.
Kausediakan balonan biru.
Bintang-bintang bertepuk tangan
dan serangga malam riuh tertawa
semua mengagumi-Mu:
Tukang Sulapan Tak Bertara.
Lalu Kauangkat tangan-Mu berpospor
gemerlapan, tinggi-tinggi, gemerlapan.
Dan itu berarti: selamat tidur
sampai ketemu esok hari
dengan sulapan yang lain dan baru. 


  • KENANGAN DAN KESEPIAN
Rumah tua
dan pagar batu.
Langit di desa
sawah dan bambu.

Berkenalan dengan sepi
pada kejemuan disandarkan dirinya.
Jalanan berdebu tak berhati
lewat nasib menatapnya.

Cinta yang datang
burung tak tergenggam.
Batang baja waktu lengang
dari belakang menikam.

Rumah tua
dan pagar batu.
Kenangan lama
dan sepi yang syahdu.


  • PEREMPUAN YANG MENUNGGU
Orang yang menunggu
dan mengarungi waktu
hati padang tanpa bunga
udara dan batu sekali dikandungnya.

Sepi terbaring pada malam dan pagi
menyiksa racun jemu yang abadi.

la duduk di atas luka
berbelai dengan hawa ia berkata:
Saya sudah tua, dan
disuruh saya:

Duduk saja di sana!
Dan menanti!


  • DONGENG PAHLAWAN
Pahlawan telah berperang dengan panji-panji
berkuda terbang dan menangkan putri.
Pahlawan kita adalah lembu jantan
melindungi padang dan kaum perempuan.
Pahlawan melangkah dengan baju-baju sutra.

Malam tiba, angin tiba, ia pun tiba.
Adikku lanang, senyumlah bila bangun pagi-pagi
kerna pahlawan telah berkunjung di tiap hati.


  • LAGU SERDADU
Kami masuk serdadu dan dapat senapang
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang.
Yoho, darah kami campur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak!

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali.
Wahai, tanah yang baik untuk mati!
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukillah ia bagi putraku di rumah.


  • LAGU IBU
Angin kencang datang tak terduga.
Angin kencang mengandung pedas mrica.
Bagai kawanan lembu langit tanpa perempuan.
Kawanan arus sedih dalam pusaran.
Ditumbukinya padas dan batu-batuan.
Tahu kefanaan, ia pergi tanpa tinggalan.
Angin kencang adalah birahi, sepi dan malapetaka.
Betapa kencang serupa putraku yang jauh tak terduga.


  • BURUNG HITAM
Burung hitam manis dari hatiku
betapa cekatan dan rindu sepi syahdu.
Burung hitam adalah buah pohonan.
Burung hitam di dada adalah bebungaan.
Ia minum pada kali yang disayang
ia tidur di daunan bergoyang.
la bukanlah dari duka meski is burung hitam
Burung hitam adalah cintaku padamu yang terpendam.


  • SURAT KEPADA BUNDA
Tentang Calon Menantunya

Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.

Terpupuslah sudah masa-masa sepiku.
Hendaknya berhenti gemetar rusuh
hatimu yang baik itu
yang selalu mencintaiku.
Kerna kapal yang berlayar
telah berlabuh dan ditambatkan.
Dan sepatu yang berat serta nakal
yang dulu biasa menempuh
jalan-jalan yang mengkhawatirkan
dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara,
kini telah aku lepaskan
dan berganti dengan sandal rumah
yang tenteram, jinak dan sederhana.

Mamma,
Burung dara jantan yang nakal
yang sejak dulu kaupiara
kini terbang dan telah menemu jodohnya.
la telah meninggalkan kandang yang kaubuatkan
dan tiada akan pulang
buat selama-lamanya.

Ibuku,
Aku telah menemukan jodohku.
Janganlah kau cemburu.
Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti:
pada waktunya, aku mesti kaulepaskan pergi.

Begitu kata alam. Begitu kau mengerti:
Bagai dulu bundamu melepas kau
kawin dengan ayahku. Dan bagai
bunda ayahku melepaskannya
untuk mengawinimu.
Tentu sangatlah berat.
Tetapi itu harus, Mamma!
Dan akhirnya tak akan begitu berat
apabila telah dimengerti
apabila telah disadari.

Hari Sabtu yang akan datang
aku akan membawanya kepadamu.
Ciumlah kedua pipinya
berilah tanda salib di dahinya
dan panggillah ia dengan kata: Anakku!

Bila malam telah datang
kisahkan padanya
riwayat para leluhur kita
yang ternama dan perkasa.
Dan biarkan ia nanti
tidur di sampingmu.

la pun anakmu.
Sekali waktu nanti
ia akan melahirkan cucu-cucumu.
Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu.
Dan kepada mereka
ibunya akan bercerita
riwayat yang baik tentang nenek mereka:
bunda-bapak mereka.

Ciuman abadi
dari anak lelakimu yang jauh,
Willy.


  • SERENADA MERAH PADAM
Sekawan kucing
berpasang-pasangan
mengeyong di kegelapan.
Sekawan kucing
mengeyong dengan bising
mengeyong dengan panas
di kegelapan.
Manisku! Manisku!
Sekawan kucing
berpasang-pasang
saling menggosokkan tubuhnya
di kegelapan.

Seekor kucing jantan
menyapukan kumisnya yang keras
ke bulu perut betinanya.
Maka yang betina berguling-guling
di atas debu tanah.
Menggeliat dan berguling-guling
tak terang pandang matanya.

Serta dari mulutnya
keluar suara panjang,
kerna telah dilemahkan
seluruh urat badannya.
Manisku! Manisku!
Dengarlah bunyi kucing
mengganas di kegelapan.
Seekor kucing jantan
menggeram dengan dalam
di leher betinanya.
Maka
selagi sang betina kecapaian
ia pun menyeringai
di kegelapan.


  • SURAT CINTA
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah.
Wahai, Dik Narti,
aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis m
engibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, Dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku!

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi.
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak'kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis.
DI muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, Dik Narti,
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan.

Aku melamarmu.
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
daripada yang lain ...
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit.
Lalu tumpahlah gerimis.
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuat
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, Putri Duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu.

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda-gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya.
Wahai, Dik Narti,
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!


Itulah 10 karya puisi WS. Rendra yang terkenal dan merasuk ke jiwa pembacanya. Tidak bisa kita pungkiri beberapa kaya beliau memang dapat merobek-robek hati sang pembaca karena penjiwaan dan keindahan kata-katanya.









Thursday, March 15, 2018

5 Puisi Karya Sapardi Djoko Damono



Sapardi Djoko dan Puisi-Puisinya. Siapa yang tak mengenal Sapardi Djoko Darmono, baik orang bisa maupun sastrawan pasti mengenalnya karena karya-karya sastra yang telah ia buat. Sapardi Djoko Darmono lahir di Surakarta 20 Maret 1940. Hingga akhirnya Sapardi Djoko kuliah di Universitas Gadjah Mada mengambil Sastra Inggris, sejak kuliah ia sudah rajin mengirim karya sastranya ke berbagai media. Ia tidak hanya aktif dalam menulis puisi, namun ia juga menulis banyak cerpen dan menerjemahkan tulisan karya-karya berbahasa inggris.
Image result for sapardi djoko damono
(image: wikipedia.org)

Untuk mlihat kembali karya-karya beliau yang bisa dibilang istimewah dan sangat diterima baik oleh masyarakat dan juga sastrawan, berikut adalah 5 Puisi Karya Sapardi Djoko Darmono.


  • Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikan abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikan tiada 
 

  • Mata Pisau
mata pisau itu tak berkejap menatapku
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir; ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
 ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu


  • Atas Kemerdekaan
kita berkata; jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya; langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum hari yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu;
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah 


  • Yang Fana Adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi;
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi. 


  • Hujan Di Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak 
dari hujan bulan juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu dijalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang terucapkan diserap akar pohon bunga itu 


Itulah 5 Puisi Karya Sapardi Djoko. Jika kita menyadari, betapa hebatnya beliau mengartikan sebuah kata, bukan begitu?. Saya sangat kagum dengan karya-karya beliau, namun sementara ini saya hanya memberikan 5 Karya Sapardi Djoko ini saja.





Wednesday, March 14, 2018

[Puisi] Tuan dan Puan, Mampukah Kau... - Salman Faridzi


Tuan dan Puan Mampukah Kau...

Tuan, mampukah kau menatap indah matanya,
salahkah ku kagum pada matanya
Elok matanya, tak lagi mampu diucap dengan kata
Indah, benar-benar indah

Puan, mampukah kau melihat indah senyumnya,
salahkah ku kagum pada senyumnya
Indah senyumnya, tak lagi mampu diucap dengan kata
Cantik, benar-benar cantik

[Puisi] Bergerilya Dalam Aksara - Salman Faridzi



Bergerilya Dalam Aksara

Bergerilya dalam aksara
Mencari indahmu pada sebuah kata
Meluap emosi penuh cinta
Indahnya bersajak dengan rasa

Lihat;  awan berdampingan dengan senja
Aku berharap akulah awan; kau senja
Sayangnya,  awan akan selalu ada,
tapi tidak dengan senja

Aku sudah lemah dan hampir sekarat,
tapi aksaraku perlahan semakin kuat,
ia menembus pintu-pintu yang berkarat
Dipaksanya bangun jiwa-jiwa yang patah semangat!
faridzisalman

Thursday, March 8, 2018

Puisi Yang Menggambarkan Indah Mata Wanita [Elok Matanya] - Salman Faridzi




Elok Matanya

Indah matanya, lebih indah dari goyah daun pucuk merah
Angin datang membawa kabar; indahnya
Membuat daun lupa mencengkram ranting
Daun pun jatuh perlahan. Ia terkesima

Bulat matanya mengundang angin,
ilalang bergoyang karenanya
tatapannya manja, oh aku tergoda
Begitu katanya

Jangan tatap aku,
itu menakutkan; begitu kata selembar daun
Jangan buat aku terlena, elok matamu
Terlihat begitu indah. Tak mampu kuterjemahkan
faridzisalman






Indah matanya, lebih indah dari goyah daun pucuk merah
Angin datang membawa kabar; indahnya
Membuat daun lupa mencengkram ranting
Daun pun jatuh perlahan. Ia terkesima”

                Matanya seperti membawa cerita bahwa indah mata itu lebih indah dari apa yang pernah terbayang sebelumnya. Angin pun membawa kabar, bahwa dedaunan ingin bercerita tentang mata itu.  “Indahnya mata itu, membuatku lupa akan prioritasku mencengkram ranting, agar aku tak terjatuh. Namun, aku terlena. Aku terkesima”, ucap daun.
                Setiap melihat matanya, aku lupa semua kegiatan yang kulakukan. Mata itu membutakan aku. Membuatku terlena, sungguh benar-benar indah.


Bulat matanya mengundang angin,
ilalang bergoyang karenanya
tatapannya manja, oh aku tergoda
Begitu katanya

                Matanya bulat, akupun tergoda. Betapa indahnya ciptaan tuhan ini, dia berbeda. Jika boleh aku meminta pada tuhan, jadikan dia jodohku. Jika bukan jalannya, aku sudah cukup bahagia hanya mengaguminya. Saat ini aku benar-benar telah tergoda, hanya dengan tatapannya.


“Jangan tatap aku,
itu menakutkan; begitu kata selembar daun
Jangan buat aku terlena, elok matamu
Terlihat begitu indah. Tak mampu kuterjemahkan

                Jika aku bisa meminta lagi pada tuhan sebagai jaminan bahwa memang dia bukan jodohku, cukup biarkan ia tak memberikan tatapan mata itu, menakutkan. Itu membuatku terlena dengan dunia, terkhusus wanita. Elok matanya, tuhan, mata itu sempurna. Begitu indah, entah apa maksut tatapan itu, aku tak bisa menerjemahkan maksut hatinya. Yang pasti aku yakin, aku hanya mengaguminya.



Puisi ini aku buat untuk menggambarkan suasana hati banyak orang. Mengenai perasaan, siapa yang tau.

Jadilah pembaca yang bijak, jangan mengakui hasil karya orang lain. Coba kalian mengapresiasi dengan cara membagikan atau rewrite dengan sumber penulisnya. Terima kasih.